LMP Siap Perang Lawan Black Campaign Serang Rohidin

AGEN07.COM – Provinsi Bengkulu -, Keluarga Besar Laskar Merah Putih Markas Daerah Provinsi Bengkulu, bersama Keluarga Besar Laskar Merah Putih Markas Cabang Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu, siap Perang melawan Black Campaign yang akan menyerang Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah.
Demikian ditegaskan Ketua Markas Daerah Laskas Merah Putih Provinsi Bengkulu, Chairuddin, MDK, terkait adanya rumor yang berkembang bahwa ada pihak atau kelompok tertentu yang sudah menyiapkan 20 Media Online untuk melakukan Black Campaign menjelang Pilkada serentak 9 Desember 2020.
“ Saya belum tahu pasti, siapa Calon Kepala Daerah yang akan di Black Campaign. Tetapi karena Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, yang notabene adalah Dewan Pembina utama Markas Daerah Laskas Merah Putih Provinsi Bengkulu dipastikan maju di Pilkada sebagai Calon Gubernur, kami wajib mempersiapkan Perlawanan jika ternyata beliau diserang Black Campaign,” kata Chairuddin, MDK, kepada Awak Media Agen07.com, di Bengkulu.
Ia juga menyebutkan, bahwa untuk melawan kemungkinan adanya Black Campaign yang menyerang Gubernur Bengkulu di Pilkada, Rohidin Mersyah, Keluarga Besar Laskar Merah Putih Provinsi Bengkulu sudah menyiapkan 9 Media Online dan 4 Media Cetak, seluruhnya milik para Pengurus Laskar Merah Putih baik di Markas Daerah Provinsi maupun di Markas Cabang Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu.
“ Dengan keyakinan menjadi ‘Pemenang’ dalam menghadapi serangan Black Campaign, meski hanya dengan 9 Media Online dan 4 Media Cetak kami siap ‘Perang’. Apalagi Media kami bukan Media ‘Abal-Abal’, karena selain memiliki alamat yang jelas seluruhnya memiliki Pemimpin Redaksi dan Penanggungjawab sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers,” ujar Chairuddin, MDK.
Dia mengakui, Rohidin Mersyah, baik sebagai Gubernur Bengkulu maupun dalam kapasitasnya sebagai Pembina Utama Markas Daerah Laskar Merah Putih Provinsi Bengkulu, bukan manusia sempurna. Tetapi berdasarkan Rekam Jejaknya mulai dari sebagai Wakil Bupati Bengkulu Selatan mendampingi Reskan Effendi alias Pak Bowo, Wakil Gubernur Bengkulu mendampingi Riduan Mukti, hingga menjadi Gubernur Bengkulu menggantikan Riduan Mukti yang harus mendekam di Penjara karena terseret kasus istrinya Lily Maduri yang terjaring OTT (Operasi Tangkap Tangan) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tidak ada celah bagi siapapun untuk mem- Black Campaign Rohidin Mersyah.
“ Sebab, dengan melihat Karakter Kepemimpinan Riduan Mukti saat menjadi Gubernur Bengkulu yang ‘Arogan’, dalam setiap menentukan Kebijakan kecil kemungkinan ‘Dia’ akan melibatkan atau paling tidak meminta pendapat kepada Rohidin Mersyah dalam kapasitasnya sebagai Wakil Gubernur. Dengan kata lain, seluruh Kebijakan Riduan Mukti ketika menjadi Gubernur Bengkulu, diantaranya mulai dari me-Rasionalisasi Anggaran APBD sebesar 30 persen, memecat Pejabat Eselon 2 sebelum 6 bulan setelah Dilantik menjadi Gubernur sebagaimana diatur Undang-Undang Pilkada, memindahkan puluhan Pejabat dari Musi Rawas ke Provinsi Bengkulu, melarang pejabat eselon 2 menghadap Gubernur jika tak dipanggil, seratus persen diyakin merupakan kebijakan ‘Dia’ (Riduan Mukti) sendiri,” papar Chairuddin, MDK, mantan Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mingguan Suara Hukum yang sempat dilaporkan bahkan hingga diadili oleh Dewan Pers dengan tuduhan media yang dipimpinnya melakukan Black Campaign terhadap Riduan Mukti.
“ Dan yang perlu dicatat, tidak ada Satu berita atau tulisanpun di Suara Hukum ketika itu yang mengungkapkan Fakta Negatif tentang Rohidin Mersyah baik dalam kasitasnya sebagai pribadi, sebagai mantan Wakil Bupati Bengkulu Selatan, terlebih sebagai Wakil Gubernur Bengkulu mendampingi Riduan Mukti.

Sebagai Pemimpin Redaksi, ketika itu saya Memprediksi jika Riduan Mukti tidak akan lama menjadi Gubernur Bengkulu. Sementara sebagai Putra Asli Daerah Terbaik, Rohidin Merysah ketika itu sepertinya memang Ditakdirkan untuk Memperbaiki Tata Kelola Pemerintahan Provinsi Bengkulu yang Berantakan setelah ‘Diobok-Obok’ oleh Riduan Mukti, yang notabene bukan Putra Asli Daerah (Bengkulu). Dan faktanya, Rohidin Mersyah berhasil menatya kembali Tata Kelola Pemerintahan Provinsi Bengkulu dengan baik, tanpa menimbulkan konflik yang berarti sedikitpun,,” tegas Chairuddin, MDK.
Menjawab pertanyaan tentang adanya pernyataan seorang anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari PAN (Partai Amanat Nasional), Dempo Xler, dengan menyebutkan ‘Bengkulu Diambang Kehancuran’, menurutnya Pernyataan tersebut Hoax karena bermakna pembohongan terhadap publik yang menyesatkan.
“ Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin (Provinsi) Bengkulu dikatakan ‘Diambang Kehancuran’ atau ‘Bengkulu Hancur’. Kata ‘Hancur’ dalam Bahasa Indonesia jika ditujukan untuk menggambarkan keadaan suatu daerah (Provinsi), itu berarti daerah (Provinsi) tersebut dalam keadaan Berantakan sedemikian rupa. Itu hanya bisa terjadi apabila daerah (Provinsi) yang dimaksud berada dalam zona ‘Perang’. Sementara Indonesia termasuk Provinsi Bengkulu tidak berada dalam zona ‘Perang’. Provinsi Bengkulu dengan Sembilan Kabupaten dan Satu Kota baik-baik saja. Mulai dari Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Lurah dan Kepala Desa termasuk RW dan RT tetap dalam keadaan nyaman membangun daerah peninggalan leluhurnya. Jadi dari sisi mana kok bisa dikatakan ‘Bengkulu Diambang Kehancuran’ atau ‘Bengkulu Hancur’. Dan perlu diingat, Provinsi Bengkulu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari 33 Provinsi lain se-Indonesia dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Jadi jika ada yang mengatakan Provinsi Bengkulu diambang kehancuran, secara tidak langsung juga mengatakan NKRI diambang kehancuran. Sementara bagi Laskar Merah Putih, NKRI adalah Harga Mati,,” papar Chairuddin, MDK.
“ Berbeda jika ada yang mengatakan bahwa Perekonomian atau Dunia Pendidikan Bengkulu diambang Kehancuran, itu masih bisa diterima dengan ‘Akal’ sehat, tetapi itupun masih harus berdasarkan Alasan atau Alibi yang didukung oleh fakta kebenaran dan bukan Pembenaran,” tambahnya.
Sementara saat disinggung pernyataan ‘Bengkulu Hancur’ dilontarkan Dempo Xler terkait dukungan Partai Demokrat untuk Ketua DPW PAN, Helmi Hasan menuju Pilgub, sebagaimana dilansir beberapa media online edisi siar 24 Juni 2020 kemudian dikutif oleh media online Bengkulu Interaktif News edisi siar 25 Juni 2020, Chairuddin MDK menduga jika pernyataan tersebut ditujukan kepada Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, yang memang dipastikan maju di Pilgub pada 9 Desember 2020.
“ Dugaan Saya seperti itu. Pernyataan itu ingin mengatakan bahwa Provinsi Bengkulu dipimpin Rohidin Mersyah sebagai Gubernur berada ‘Diambang Kehancuran’, atau Bengkulu ‘Menjadi’ Hancur. Karena pernyataannya tidak didukung dengan Fakta Kebenaran, bahkan bisa dikatakan tidak bisa diterima oleh Logika ‘Akal’ sehat, maka pernyataan tersebut bisa dikatagorikan sebagai Black Campaign. Untuk itu, demi melindungi Rohidin Mersyah sebagai Dewan Pembina Utama Markas Daerah Laskar Merah Putih Provinsi Bengkulu, yang notabene tentu saja sudah menjadi Keluarga Besar Laskar Merah Putih, kami menyatakan ‘Perang’ terhadap Black Campaign yang diarahkan kepada beliau (Rohidin Mersyah) siapapun pelakunya,” pungkas Chairuddin, MDK.
Dia menambahkan, bahwa sudah meminta kepada Sekretaris Markas Daerah Laskar Merah Putih Provinsi Bengkulu, yang juga Pemimpin Redaksi Tabloid Brantas, Ahwan Toni, A.md, untuk mencari tahu tentang media Online yang memuat pernyataan ‘Bengkulu Diambang Kehancuran’. Dan berdasarkan hasil penelusurannya diketahui, jika media online dimaksud tidak memiliki Box Redaksi sehingga tidak mencantumkan siapa Pemimpin Redaksinya dan Siapa Penanggungjawabnya, sebagaimana ketentuan yang diatur Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Sementara Karya Tulis apapun yang dimuat atau disiarkan oleh Media Masa yang tidak memiliki Pemimpin Redaksi dan Penanggungjawab, maka tidak bisa dikatagorikan sebagai Produk (Karya) Jurnalis. (red/tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *